Wednesday Feb 22

Medina Multi Mitra - Membangun Kapasitas Pemerintah Daerah

Penyusutan Aset Tetap

Wednesday, 08 February 2012 09:09
Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Penyusutan adalah penyesuaian nilai secara terus menerus sehubungan dengan penurunan kapasitas suatu aset, baik penurunan kualitas, kuantitas, maupun  nilai. Penurunan kapasitas terjadi karena aset digunakan dalam operasional suatu entitas. Penyusutan dilakukan dengan mengalokasikan biaya perolehan suatu aset menjadi beban penyusutan secara periodik sepanjang masa manfaat aset.

Penyusutan dilakukan agar nilai wajar suatu aset dapat diketahui. Tanpa penyusutan, nilai aset tetap dalam neraca akan lebih saji (overstated). Dalam bultek SAP No. 5 tentang penyusutan disebutkan bahwa adanya penyusutan dimaksudkan untuk menggambarkan penurunan kapasitas dan manfaat yang diakibatkan pemakaian aset tetap dalam kegiatan pemerintahan.

Tidak semua aset perlu disusutkan karena tidak semua jenis aset mangalami penurunan nilai. Beberapa jenis aset justru dapat meningkat nilainya seiring waktu. Aset-aset yang memerlukan penyusutan adalah aset yang masa manfaatnya lebih dari satu tahun dan mengalami penurunan nilai. Dengan demikian, penyusutan hanya dilakukan terhadap aset tetap selain tanah.

Metode Penyusutan

Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung penyusutan suatu aset. Metode yang paling umum dan paling sederhana adalah metode garis lurus (straight line). Metode garis ini menghitung penurunan nilai aset dengan rumus:

Misalkan harga sebuah laptop adalah Rp. 5.000.000. Diestimasikan bahwa laptop ini dapat digunakan dengan baik selama 3 tahun. Setelah masa manfaatnya habis, laptop tersebut diharapkan dapat terjual dengan harga Rp. 500.000 (estimasi nilai sisa). Jika laptop ini disusutkan menggunakan metode gari lurus, maka besarnya beban penyusutan adalah Rp. 1.500.000 per tahun. Nilai buku (carrying value) dari laptop selama masa manfaatnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Cara lain untuk menghitung beban penyusutan adalah menggunakan metode akselerasi. Yang termasuk dalam metode ini adalah Sum of the Year’s Digits dan Declining Balance. Kedua jenis metode ini lebih konservatif dan lebih akurat pada beberapa kondisi. Kedua metode tersebut mengasumsikan bahwa sebuah aset kehilangan sebagian besar “nilai”nya di tahun-tahun pertama penggunaannya.

Untuk menghitung penyusutan dengan metode Sum of the Year’s Digits digunakan rumus sebagai berikut:

dimana n adalah estimasi masa manfaat aset.

Dengan menggunakan ilustrasi yang sama dengan sebelumnya, beban penyusutan per tahun yang dihitung dengan metode Sum of the Years Digits dapat dilihat pada table berikut:

Metode akselerasi yang lainnya adalah Declining Balance atau Double Delining Balance. Untuk menghitung penyusutan dengan metode ini, digunakan rumus:

dimana n adalah estimasi masa manfaat aset.

Dengan menggunakan ilustrasi yang sama dengan sebelumnya, beban penyusutan per tahun yang dihitung dengan metode double declining balance dapat dilihat pada table berikut:

Beban penyusutan pada tahun ketiga disesuaikan jumlahnya, sehingga nilai buku di akhir tahun ketiga adalah Rp. 500.000, sesuai dengan estimasi nilai sisa yang diinginkan. Selama tiga tahun pemakaian, nilai buku dari laptop tersebut dapat dilihat pada bagan berikut:

Dengan metode sum of the year digits dan double declining, nilai beban penyusutan sangat besar di tahun-tahun awal dan semakin menurun ketika masa manfaat aset akan habis.

Selain ketiga metode yang telah dibahas di atas, ada satu lagi metode yang dapat digunakan untuk menghitung penyusutan, yaitu metode unit produksi. Metode ini paling tepat digunakan jika unit manfaat dari aset bersifat spesifik dan terkuantifikasi.

Metode penyusutan apa yang sebaiknya dipilih sangat bergantung dari sifat, karakteristik, dan intensitas pemanfaatan aset tetap yang akan disusutkan. Jika intensitas pemanfaatan bersifat menurun dalam artian pemanfaatan di masa awal pengabdian aset tetap lebih intensif daripada di akhir, maka perhitungan penyusutan yang lebih logis dan proporsional dapat dilakukan dengan metode saldo menurun berganda. Jika unit manfaat bersifat spesifik dan terkuantifikasi, maka perhitungan penyusutan dapat dilakukan dengan memakai metode unit produksi. Akan tetapi jika intensitas pemanfaatan selama masa manfaat kurang spesifik dan tidak terkuantifikasi, maka perhitungan penyusutan yang lebih logis dan proporsional dapat dilakukan dengan memakai metode garis lurus.

Pencatatan Penyusutan

Dalam akuntansi berbasis akrual, penyusutan dicatat sebagai beban. Pencatatan ini umumnya dilakukan setiap akhir periode. Adanya penyusutan tersebut akan mengurangi nilai aset tetap. Pengurangan nilai ini ditampung dalam suatu akun yang bernama “akumulasi penyusutan”, yang merupakan contra account dari aset tetap. Berikut adalah penjurnalan penyusutan:

Beban Penyusutan

xx

 

Akumulasi Penyusutan

 

xxx

 

Sedangkan dalam akuntansi pemerintah yang berbasis kas menuju akrual, penyusutan ini dicatat sebagai pengurangan ekuitas dana, yaitu “Diinvestasikan dalam aset tetap”. Jurnal untuk mencatat penyusutan dalam akuntansi berbasis kas menuju akrual adalah sebagai berikut:

Diinvestasikan dalam aset tetap

xxx

 

Akumulasi Penyusutan

 

xxx

Page 1 of 2